MATERI 10
PENGARUH
LINGKUNGAN KERJA TERHADAP KINERJA
PENGARUH LINGKUNGAN KERJA TERHADAP KINERJA DI SMK
A. VISI, MISI DAN SIFAT ORGANISASI
Visi
Sekolah Menengah Kejuruan
Menyiapkan
peserta didik unggul dalam prestasi dan menjadi tenaga kerja profesional
tingkat menengah untuk mengisi pembangunan menghadapi pasar global yang
berbudaya.
Misi
Sekolah
Menengah kejuruan
1. Menghasilkan sumber daya manusia
yang kreatif dan inovatif sehingga menjadikan faktor keunggulan dalam berbagai
sektor pembangunan.
2.
Menjadikan
peserta didik menjadi aset pembangunan yang produktif.
3.
Membekali
peserta didik dengan kemampuan untuk dapat mengembangkan diri secara
berkelanjutan.
4.
Menghasilkan
tenaga kerja profesional yang berbudaya bangsa untuk memenuhi kebutuhan dunia
usaha dan industri.
5.
Membekali
peserta didik agar mampu memilih karir, ulet dan gigih dalam berkompetisi,
beradaptasi di lingkungan kerja dan mengembangkan sikap profesional dalam
bidang keahliannya.
6.
Mempersiapkan
peserta didik agar menjadi tenaga yang produktif kerja tingkat menengah dan
mampu bekerja mandiri.
7.
Membekali
peserta didik dengan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni agar mampu
mengembangkan diri di kemudian hari baik secara mandiri maupun melalui jenjang
pendidikan yang lebih tinggi.
8. Mengisi lowongan pekerjaan yang ada
di DU/DI sebagai tenaga kerja profesional yang berbudaya bangsa, sesuai dengan
kompetensi dalam program keahliannya.[1]
Sifat
Organisasi Sekolah
Menengah Kejuruan
1. Peningkatan iman dan takwa serta
akhlak mulia
Keimanan dan ketakwaan serta akhlak
mulia menjadi dasar pembentukan kepribadian peserta didik secara utuh.
Kurikulum disusun yang memungkinkan semua mata pelajaran dapat menunjang
peningkatan iman dan takwa serta akhlak mulia.
2.
Peningkatan
potensi, kecerdasan, dan minat sesuai dengan tingkat perkembangan dan kemampuan
peserta didik
Pendidikan merupakan proses
sistematik untuk meningkatkan martabat manusia secara holistik yang
memungkinkan potensi diri (afektif, kognitif, psikomotor) berkembang secara
optimal. Sejalan dengan itu, kurikulum disusun dengan memperhatikan potensi,
tingkat perkembangan, minat, kecerdasan intelektual, emosional, sosial,
spritual, dan kinestetik peserta didik.
3.
Keragaman
potensi dan karakteristik daerah dan lingkungan
Daerah memiliki potensi, kebutuhan,
tantangan, dan keragaman karakteristik lingkungan. Masing-masing daerah
memerlukan pendidikan sesuai dengan karakteristik daerah dan pengalaman hidup
sehari-hari. Oleh karena itu, kurikulum harus memuat keragaman tersebut untuk menghasilkan
lulusan yang relevan dengan kebutuhan pengembangan daerah.
4.
Tuntutan
pembangunan daerah dan nasional
Dalam era otonomi dan desentralisasi
untuk mewujudkan pendidikan yang otonom dan demokratis perlu memperhatikan
keragaman dan mendorong partisipasi masyarakat dengan tetap mengedepankan
wawasan nasional. Untuk itu, keduanya harus ditampung secara berimbang dan
saling mengisi.
5.
Tuntutan
dunia kerja
Kegiatan pembelajaran harus dapat
mendukung tumbuh kembangnya pribadi peserta didik yang berjiwa kewirausahaan
dan mempunyai kecakapan hidup. Oleh sebab itu, kurikulum perlu memuat kecakapan
hidup untuk membekali peserta didik memasuki dunia kerja. Hal ini sangat
penting terutama bagi satuan pendidikan kejuruan dan peserta didik yang tidak
melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.
6.
Perkembangan
ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni
Pendidikan perlu mengantisipasi dampak global yang membawa
masyarakat berbasis pengetahuan di mana IPTEKS sangat berperan sebagai
penggerak utama perubahan. Pendidikan harus terus menerus melakukan adaptasi
dan penyesuaian perkembangan IPTEKS sehingga tetap relevan dan kontekstual
dengan perubahan. Oleh karena itu, kurikulum harus dikembangkan secara berkala
dan berkesinambungan sejalan dengan perkembangan Ilmu pengetahuan, teknologi,
dan seni.
7. Agama
Kurikulum harus dikembangkan untuk mendukung peningkatan
iman dan taqwa serta akhlak mulia dengan tetap memelihara toleransi dan
kerukunan umat beragama. Oleh karena itu, muatan kurikulum semua mata pelajaran
harus ikut mendukung peningkatan iman, taqwa dan akhlak mulia.
8. Dinamika perkembangan global
Pendidikan harus menciptakan
kemandirian, baik pada individu maupun bangsa, yang sangat penting ketika dunia
digerakkan oleh pasar bebas. Pergaulan antar bangsa yang semakin dekat
memerlukan individu yang mandiri dan mampu bersaing serta mempunyai kemampuan
untuk hidup berdampingan dengan suku dan bangsa lain.
9.
Persatuan
nasional dan nilai-nilai kebangsaan
Pendidikan diarahkan untuk membangun
karakter dan wawasan kebangsaan peserta didik yang menjadi landasan penting
bagi upaya memelihara persatuan dan kesatuan bangsa dalam kerangka NKRI. Oleh
karena itu, kurikulum harus mendorong berkembangnya wawasan dan sikap
kebangsaan serta persatuan nasional untuk memperkuat keutuhan bangsa dalam
wilayah NKRI.
10. Kondisi sosial budaya masyarakat setempat
Kurikulum
harus dikembangkan dengan memperhatikan karakteristik sosial budaya masyarakat
setempat dan menunjang kelestarian keragaman budaya. Penghayatan dan apresiasi
pada budaya setempat harus terlebih dahulu ditumbuhkan sebelum mempelajari
budaya dari daerah dan bangsa lain.
11. Kesetaraan Jender
Kurikulum harus diarahkan kepada terciptanya pendidikan yang
berkeadilan dan memperhatikan kesetaraan jender.
PEDOMAN-PEDOMAN
TENTAN TUJUAN ORGANISASI
1.
Perumusan tentang tujuan organisasi secara jelas. Tujuan harus diketahui secara
pasti, harus dirum,uskan dengan jelas dan secara tertulis.
2.
Pemeliharaan kesatuan tujuan organisasi . Setiap organisasi sebagai suatu
kebulatan dan masing-masing satuan dalam lingkungan harus mengarah kepada
tercapainya tujuan organisasi yang tunggal
3.
Pengutamaan tujuan organisasi Tujuan organisasi harus diutamakan dari tujuan
pribadi masing-masing anggota organisasi tersebut.[2]
TIPE-TIPE
ORGANISASI
Pada saat
ini Tipe atau Bentuk Organisasi terdapat 6 bentuk organisasi yang perlu diperhatikan.
Berikut ini adalah definisi Tipe
atau Bentuk Organisasi menurut beberapa ahli adalah:
1. ORGANISASI LINI/GARIS (LINE ORGANIZATION)
Organisasi
Lini/Garis diciptakan oleh Henry Fayol, Organisasi lini adalah suatu bentuk
organisasi yang menghubungkan langsung secara vertical antara atasan dengan
bawahan, sejak dari pimpinan tertinggi sampai dengan jabatan-jabatan yang
terendah, antara eselon satu dengan eselon yang lain masing-masing dihubungkan
dengan garis wewenang atau komando. Organisasi ini sering disebut dengan
organisasi militer. Organisasi Lini hanya tepat dipakai dalam organisasi kecil.
Contohnya; Perbengkelan, Kedai Nasi, Warteg, Rukun tetangga.
Memiliki
Ciri-ciri Organisasi Lini adalah :
·
Hubungan antara atasan dan bawahan masih bersifat
langsung dan memilikiJumlah karyawan yang sedikit
·
Pemilik modal merupakan pemimpin tertinggi
·
Belum terdapat spesialisasi Masing-masing kepala unit
mempunyai wewenang & tanggung jawab penuh atas segala bidang pekerjaan
·
Struktur organisasi sederhana dan stabil Organisasi
tipe garis ini biasanya diterapkan kepada organisasi kecil yang disiplin mudah
dipelihara (dipertahankan)
2. ORGANISASI LINI DAN STAF (LINE AND STAFF
ORGANIZATION)
Organisasi
Garis dan Staf diciptakan oleh Harrington Emerson. Organisasi Garis dan Staf
Merupakan bentuk organisasi yang mengambil kelebihan-kelebihan dari organisasi
garis seperti adanya pengawasan secara langsung, serta mengambil kelebihan-kelebihan
dari organisasi staf seperti adanya spesialisasi kerja. Organisasi Garis dan
Staf merupakan kombinasi dari organisasi lini dan azas komando dipertahankan
tetapi dalam kelancaran tugas pemimpin dibantu oleh para staff, dimana staff
berperan untuk memberi masukan, bantuan pikiran, saran-saran, dan data
informasi yang dibutuhkan.
Memiliki Ciri-ciri:
·
Hubungan atasan dan bawahan tidak bersifat langsung
·
Pucuk pimpinan hanya satu orang dibantu staff
·
Terdapat 2 kelompok wewenang yaitu lini dan staff
·
Jumlah karyawan banyak Organisasi besar, bersifat
komplek Adanya spesialisasi
Contoh bagan organisasi garis dan staf :
3. ORGANISASI FUNGSIONAL (FUNCTIONAL ORGANIZATION)
Organisasi
Fungsional diciptakan oleh Frederick W. Taylor, Organisasi ini disusun
berdasarkan pada sifat dan macam-macam pekerjaan yang harus dilakukan. masalah
pembagian kerja merupakan masalah yang menjadi perhatian yang sungguh-sungguh.
Memiliki Ciri-ciri:
·
Pembidangan tugas secara tegas dan jelas dapat
dibedakan
·
Bawahan akan menerima perintah dari beberapa atasan
·
Pekerjaan lebih banyak bersifat teknis
·
Target-target jelas dan pasti Pengawasan ketat
·
Penempatan jabatan berdasarkan spesialisasi
Contoh Bagan Organisasi Bentuk Fungsional :
4.ORGANISASI LINI DAN FUNGSIONAL (LINE AND FUNCTIONAL
ORGANIZATION)
Suatu bentuk
organisasi dimana wewenang dari pimpinan tertinggi dilimpahkan kepada perkepala
unit (Kepala Bagian) untuk mengambil keputusan dalam bidang pekerjaan tertentu
dan selanjutnya pimpinan tertinggi tadi masih melimpahkan wewenang kepada
pejabat fungsional yang melaksanakan bidang pekerjaan operasional dan hasil
tugasnya diserahkan kepada kepala unit terdahulu tanpa memandang eselon atau
tingkatan.
Memiliki Ciri-ciri:
·
Tidak tampak adanya perbedaan tugas-tugas pokok dan
tugas-tugas yang bersifat bantuan.
·
Terdapat spesialisasi yang maksimal dan tidak
menonjolkan perbedaan tingkatan dalam pembagian kerja
Contoh bagan organisasi Lini dan Fungsional :
5. ORGANISASI LINI, FUNGSIONAL DAN STAF (LINE,
FUNCTIONAL AND STAFF ORGANIZATION)
Organisasi
ini merupakan perkembangan lebih lanjut atau merupakan gabungan dari organisasi
yang berbentuk lini fungsional dan staf..
Memiliki Ciri-ciri:
·
Organisasi besar dan kadang sangat ruwet
·
Jumlah karyawan banyak.
·
Mempunyai unsur karyawan pokok: Karyawan dengan tugas
pokok (line personal), Karyawan dengan tugas bantuan (staff personal), Karyawan
dengan tugas operasional fungsional (functional group)
6. ORGANISASI KOMITE (COMMITE ORGANIZATION)
Suatu
organisasi dimana tugas kepemimpinan dan tugas tertentu lainnya dilaksanakan
secara kolektif.
Organisasi komite terdiri dari :
1. Executive Committee ( Pimpinan Komite), yaitu para
anggotanya mempunyai wewenang lini
2. Staff Committee, yaitu orang – orang yang hanya
mempunyai wewenang staf
Memiliki ciri-ciri :
· Adanya dewan
dimana anggota bertindak secara kolektif
· Adanya hak,
wewenang dan tanggung jawab sama dari masing-masing anggota dewan.
· Asas
musyawarah sangat ditonjolkan
· Organisasinya
besar & Struktur tidak sederhana
· Biasanya
bergerak dibidang perbankan, asuransi, niaga.
Adapun
hal-hal penting yang perlu dipenuhi dalam membentuk suatu organisasi agar suatu
organisasi dapat berjalan dengan efektif.
·
Waktu. Untuk dapat berpatisipasi diperlukan waktu.
Waktu yang dimaksudkan disini adalah untuk memahamami pesan yang disampaikan
oleh pemimpin. Pesan tersebut mengandung informasi mengenai apa dan bagaimana
serta mengapa diperlukan peran serta.
·
Bilamana dalam kegiatan partisipasi ini diperlukan
dana perangsang, hendaknya dibatasi seperlunya agar tidak menimbulkan kesan
“memanjakan”, yang akan menimbulkan efek negatif. · Subyek partisipasi
hendaknya relevan atau berkaitan dengan organisasi dimana individu yang
bersangkutan itu tergabung atau sesuatau yang menjadi perhatiannnya.
·
Partisipasi harus memiliki kemampuan untuk
berpartisipasi, dalam arti kata yang bersangkutan memiliki luas lingkup
pemikiran dan pengalaman yang sama dengan komunikator, dan kalupun belum ada,
maka unsur-unsur itu ditumbuhkan oleh komunikator.
·
Komunikator harus memiliki kemampuan untuk melakukan
komunikasi timbal balik, misalnya menggunakan bahasa yang sama atau yang
sama-sama dipahami, sehingga tercipta pertukaran pikiran yang efektif atau
berhasil.
·
Para pihak yang bersangkutan bebas di dlam
melaksanakan peran serta tersebut sesuai dengan persyaratan yang telah
ditentukan.
Bila
partisipasi diadakan untuk menentukan suatu kegiatan hendaknya didasarkan
kepada kebebasan dalam kelompok, artinya tidak dilakukan pemaksaan atau
penekanan yang dapat menimbulkan ketegangan atau gangguan dalam pikiran atau
jiwa pihak-pihak yang bersangkutan. Hal ini didasarkan kepada prisnsip bahwa
partisipasi adalah bersifat persuasif.[3]
B. MOTIVASI
KERJA, SISTEM REKRUTMEN DAN SELEKSI
Menurut Hasibuan (2002: 92),
motivasi berasal dari kata latin movere yang berarti dorongan atau daya
penggerak. Motivasi diberikan kepada manusia, khususnya kepada para bawahan
atau pengikut. Motivasi penting karena dengan motivasi ini diharapkan setiap
individu karyawan mau bekerja keras dan antusias untuk mencapai produktivitas
kerja yang tinggi. Motivasi adalah pemberian daya penggerak yang menciptakan
kegairahan kerja seseorang agar mereka mau bekerja efektif dan terintegrasi
dengan segala daya upayanya untuk mencapai kepuasan.
Menurut pendapat Danim (2004: 2),
motivasi adalah sikap dan nilai dasar yang dianut oleh seseorang atau
sekelompok orang untuk bertindak atau tidak bertindak. Motivasi pada prinsipnya
merupakan kemudi yang kuat dalam membawa seseorang melaksanakan kebijakan
manajemen yang bisa terjelma dalam perilaku antusias, berorientasi pada tujuan,
dan memiliki target kerja yang jelas, baik secara individual maupun kelompok.
Selanjutnya menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005), motivasi adalah usaha yang dapat menyebabkan seseorang atau kelompok orang tertentu tergerak melakukan sesuatu karena ingin mencapai tujuan yang dikehendaki atau mendapat kepuasan dengan perbuatannya.
Selanjutnya menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005), motivasi adalah usaha yang dapat menyebabkan seseorang atau kelompok orang tertentu tergerak melakukan sesuatu karena ingin mencapai tujuan yang dikehendaki atau mendapat kepuasan dengan perbuatannya.
Motivasi merupakan suatu konsep yang
dilakukan guna memberikan dorongan hingga timbul dalam seseorang individu
hingga menggerakkan dan mengarahkan perilaku. Handoko (2001: 252) memberikan
pengertian motivasi sebagai berikut: “Motivasi adalah keadaan dalam pribadi
seseorang yang mendorong keinginan individu untuk melakukan kegiatan-kegiatan
tertentu guna mencapai tujuan.
Jadi dapat disimpulkan bahwa
motivasi adalah proses pemberian motif (penggerak atau pendorong) kepada
karyawan untuk dapat bekerja sedemikian rupa sehingga tujuan orang secara
efisien dan efektif dapat tercapai beberapa faktor penting yang mempengaruhi
motivasi adalah kebutuhan pribadi, tujuan dan persepsi individu atau kelompok
dan cara untuk mewujudkan kebutuhan, tujuan dan persepsi. Masalah yang dibahas
dan dipersoalkan dalam motivasi adalah bagaimana mendorong gairah kerja agar
seseorang ataupun keluarga orang mau bekerja semaksimal mungkin dengan
memberikan kemampuan dan ketrampilan yang dimiliki untuk mencapai tujuan,
sehingga peran motivasi ini sangat penting karena dengan motivasi diharapkan
setiap karyawan/guru mau bekerja keras sesuai dengan kompetensinya agar dapat
mencapai produktivitas dan prestasi kerja yang maksimal.
Teori Motivasi
Pertanyaan yang muncul jika
seseorang ingin menemukan keseimbangan antara pemuasan kebutuhan karyawan
dengan pencapaian tujuan organisasi adalah (1) apakah insentif yang sama dapat
diberikan kepada seluruh karyawan untuk mendapatkan hasil yang sama? dan (2)
apakah manajer/pimpinan mempunyai waktu untuk menentukan kebutuhan aktif dari
setiap bawahan ? (Swastha dan Sukoco, 1997 : 198)
Insentif yang sama tidak akan
berjalan seimbang untuk semua karyawan karena lewatnya kebutuhan seseorang
berbeda dengan orang lain, lagi pula dengan adanya perkembangan organisasi yang
semakin komplek sehingga cukup menyulitkan untuk membuat pola umum tentang
tanggapan perilaku terhadap insentif yang sama. Sedangkan menyangkut masalah
waktu, tidak mungkin bagi manajer menghabiskan waktunya untuk mengetahui setiap
bawahannya secara dekat. Sehingga satu tahap yang mungkin dapat ditempuh oleh
dengan melihat dampak dari berbagi macam praktek manajer terhadap pemuasan
kebutuhan. Melalui usaha tersebut praktek-praktek yang mempunyai dampak positif
dapat dilanjutkan sedangkan yang menimbulkan dampak negatif dapati dihilangkan.
Praktek-praktek yang dipandang tidak sehat misal deskriminasi, ketidakmaun
untuk memberi kesempatan pada karyawan mengemukakan ide ketidakmampuan untuk
merubah jika kali praktek-praktek manajemen yang membatasi pemuasan tersebut.
Berikut ini adalah paparan
teori-teori motivasi yang dirumuskan oleh para ahli (disarikan dari berbagai
sumber: Winardi, 2000: 69-93; Sondang Siagian, 286-294; Indriyo Gitosudarmo,
1999: 183-190; Fred Luthan, 1995, 140-167).
1.
Teori
Abraham H. Maslow (Teori Kebutuhan)
Teori motivasi yang dikembangkan
oleh Abraham H. Maslow pada intinya berkisar pada pendapat bahwa manusia
mempunyai lima tingkat atau hierarki kebutuhan, yaitu: (1) kebutuhan
fisiologikal (phsiological needs), seperti: rasa lapar, haus, istirahat dan
seks; (2) kebutuhan rasa aman (safety needs), tidak lama arti fisik semata,
akan tetapi juga mental, psikologikal dan intelektual ; (3) kebutuhan akan
kasih sayang (love needs); (4) kebutuhan akan harga diri (esteem needs), yang
pada umumnya tercemin dalam berbagai simbol-simbol status; dan (5) aktualisasi
diri (self actualization), dalam arti tersedianya kesempatan bagi seseorang
untuk mengembangkan potensi yang terdapat dalam dirinya sehingga berubah menjadi
kemampuan nyata.
Kebutuhan-kebutuhan yang disebut
pertama (fisiologis) dan kedua (keamanan) kadang-kadang diklasifikasikan dengan
cara lain, misalnya dengan menggolongkannya sebagai kebutuhan primer, sedangkan
yang lainnya dikenal pula dengan klasifikasi kebutuhan sekunder.
2.
Teori
McClelland (Teori Kebutuhan Berprestasi)
Dari McClelland dikenal tentang
teori kebutuhan untuk mencapai prestasi atau Need for Acievement (N.Ach) yang
menyatakan bahwa motivasi berbeda-beda, sesuai dengan kekuatan kebutuhan
seseorang akan prestasi. Murray sebagaimana dikutip oleh Winardi merumuskan
kebutuhan akan prestasi sebagai keinginan : “Melaksanakan sesuatu tugas atau
pekerjaan yang sulit. Menguasai, memanipulasi, atau mengorganisasi obyek-obyek
fisik, manusia, atau ide-ide melaksanakan hal-hal tersebut secepat mungkin dan
se-independen mungkin, sesuai kondisi yang berlaku. Mengatasi kendala-kendala,
mencapai standar tinggi. Mencapai performa puncak meningkatkan kemampuan diri
melalui penerapan bakat secara berhasil”.
Menurut McClelland karakteristik orang yang berprestasi tinggi (high achievers) memiliki tiga ciri umum yaitu: (1) sebuah preferensi untuk mengerjakan tugas-tugas dengan derajat kesulitan moderat; (2) menyukai situasi-situasi dimana kinerja mereka timbul karena upaya-upaya mereka sendiri, dan bukan karena faktor-faktor lain, seperti kemujuran misalnya; dan (3) menginginkan umpan balik tentang keberhasilan dan kegagalan mereka, dibandingkan dengan mereka yang berprestasi rendah.
Menurut McClelland karakteristik orang yang berprestasi tinggi (high achievers) memiliki tiga ciri umum yaitu: (1) sebuah preferensi untuk mengerjakan tugas-tugas dengan derajat kesulitan moderat; (2) menyukai situasi-situasi dimana kinerja mereka timbul karena upaya-upaya mereka sendiri, dan bukan karena faktor-faktor lain, seperti kemujuran misalnya; dan (3) menginginkan umpan balik tentang keberhasilan dan kegagalan mereka, dibandingkan dengan mereka yang berprestasi rendah.
3.
Teori
Clyton Alderfer (Teori “ERG”)
Teori Alderfer dikenal dengan
akronim “ERG”. Akronim “ERG” dalam teori Alderfer merupakan huruf-huruf pertama
dari tiga istilah yaitu: E = Existence (kebutuhan akan eksistensi), R =
Relatedness (kebutuhan untuk berhubungan dengan pihak lain, dan G = Growth
(Kebutuhan akan Pertumbuhan) Jika makna tiga istilah tersebut didalami akan
tampak dua hal penting. Pertama, secara konseptual terdapat persamaan antara
teori atau model yang dikembangkan oleh Maslow dan Alderfer. Karena “Existence”
dapat dikatakan identik dengan hierarki pertama dan kedua dalam teori Maslow;
“Relatedness” senada dengan hierarki kebutuhan ketiga dan keempat menurut
konsep Maslow dan “Growth” mengandung makna sama dengan “self actualization”
menurut Maslow. Kedua, teori Alderfer menekankan bahwa berbagai jenis kebutuhan
manusia itu diusahakan pemuasannya secara serentak. Apabila teori Alderfer
disimak lebih lanjut akan tampak bahwa :
• Makin tidak terpenuhinya suatu
kebutuhan tertentu, makin besar pula keinginan untuk memuaskannya;
• Kuatnya keinginan memuaskan kebutuhan
yang “lebih tinggi” semakin besar apabila kebutuhan yang lebih rendah telah
dipuaskan.
• Sebaliknya, semakin sulit
memuaskan kebutuhan yang tingkatnya lebih tinggi, semakin besar keinginan untuk
memuaskan kebutuhan yang lebih mendasar.
4.
Teori
Herzberg (Teori Dua Faktor)
Ilmuwan ketiga yang diakui oleh
memberikan kontribusi penting dalam pemahaman motivasi Herzberg. Teori yang
dikembangkannya dikenal dengan “Model dua faktor” dari motivasi yaitu faktor
motivasional dan faktor hygiene atau pemeliharaan”.
Menurut teori ini yang dimaksud faktor motivasional adalah hal-hal yang mendorong berprestasi yang sifatnya intrinsik, yang berarti bersumber dalam diri seseorang. Sedangkan yang dimaksud dengan faktor hygiene atau pemeliharaan adalah faktor-faktor yang sifatnya esktrinsik yang berarti bersumber dari luar diri yang turut menentukan perilaku seseorang dalam kehidupan seseorang. Status seseorang dalam organisasi, hubungan seorang individu dengan atasannya, hubungan seseorang dengan rekan-rekan sekerjanya, teknik penyeliaan yang diterapkan oleh para penyelia, kebijakan organisasi, sistem administrasi dalam organisasi, kondisi kerja dan sistem imbali yang berlaku.
Menurut teori ini yang dimaksud faktor motivasional adalah hal-hal yang mendorong berprestasi yang sifatnya intrinsik, yang berarti bersumber dalam diri seseorang. Sedangkan yang dimaksud dengan faktor hygiene atau pemeliharaan adalah faktor-faktor yang sifatnya esktrinsik yang berarti bersumber dari luar diri yang turut menentukan perilaku seseorang dalam kehidupan seseorang. Status seseorang dalam organisasi, hubungan seorang individu dengan atasannya, hubungan seseorang dengan rekan-rekan sekerjanya, teknik penyeliaan yang diterapkan oleh para penyelia, kebijakan organisasi, sistem administrasi dalam organisasi, kondisi kerja dan sistem imbali yang berlaku.
Salah satu tantangan dalam memahami
dan menerapkan teori Herzberg ialah memperhitungkan dengan tepat faktor mana
yang lebih berpengaruh kuat dalam kehidupan seseorang, apakah yang bersifat
intrinsik ataukan yang bersifat ekstrinsik.
5.
Teori
Keadilan
Inti teori terletak pada pandangan
bahwa manusia terdorong untuk menghilangkan kesenjangan antara usaha yang
dibuat bagi kepentingan organisasi dengan imbalan yang diterima. Artinya,
apabila seorang pegawai mempunyai persepsi bahwa imbalan yang diterimanya tidak
memadai, dua kemungkinan dapat terjadi, yaitu
• Seorang akan berusaha memperoleh
imbalan yang lebih besar, atau
• Mengurangi intensitas usaha yang
dibuat dalam melaksanakan tugas yang menjadi tanggung jawabnya.
Dalam menumbuhkan persepsi tertentu,
seorang pegawai biasanya menggunakan empat hal sebagai pembanding, yaitu :
• Harapannya tentang jumlah imbalan
yang dianggapnya layak diterima berdasarkan kualifikasi pribadi, seperti
pendidikan, keterampilan, sifat pekerjaan dan pengalamannya.
• Imbalan yang diterima oleh orang
lain dalam organisasi yang kualifikasi dan sifat pekerjaannya relatif sama dengan
yang bersangkutan sendiri;
• Imbalan yang diterima oleh pegawai
lain di organisasi lain di kawasan yang sama serta melakukan kegiatan sejenis;
• Peraturan perundang-undangan yang
berlaku mengenai jumlah dan jenis imbalan yang merupakan hak para pegawai.
6.
Teori
Penetapan Tujuan (Goal Setting Theory)
Edwin Locke mengemukakan bahwa dalam
penetapan tujuan memiliki empat macam mekanisme motivasional yakni : (a)
tujuan-tujuan mengarahkan perhatian; (b) tujuan-tujuan mengatur upaya; (c)
tujuan-tujuan meningkatkan persistensi; dan (d) tujuan-tujuan menunjang
strategi-strategi dan rencana-rencana kegiatan. Bagan berikut ini menyajikan
tentang model instruktif tentang penetapan tujuan.
7.
Teori
Victor H. Vroom (Teori Harapan)
Victor H. Vroom, dalam bukunya yang berjudul “Work and
Motivation” mengetengahkan suatu teori yang disebutkan sebagai “Teori Harapan”.
Menurut teori ini, motivasi merupakan akibat suatu hasil dari yang ingin
dicapai oleh seorang dan perkiraan yang bersangkutan bahwa tindakannya akan
mengarah kepada hasil yang diinginkannya itu. Artinya, apabila seseorang sangat
menginginkan sesuatu, dan jalan tampaknya terbuka untuk memperolehnya, yang
bersangkutan akan berupaya mendapatkannya.
Berdasarkan persepsi orang yang
bersangkutan berarti sifatnya sangat subyektif. Perilakunya pun ditentukan oleh
persepsi tersebut. Padahal dalam kehidupan organisasional disadari dan diakui
bahwa kehendak seseorang ditentukan pula oleh berbagai konsekwensi eksternal
dari perilaku dan tindakannya. Artinya, dari berbagai faktor diluar diri
seseorang turut berperan sebagai penentu dan pengubah perilaku.
Dalam hal ini berlakulah upaya yang
dikenal dengan “hukum pengaruh” yang menyatakan bahwa manusia cenderung untuk
mengulangi perilaku yang mempunyai konsekwensi yang menguntungkan dirinya dan
mengelakkan perilaku yang mengakibatkan timbulnya konsekwensi yang merugikan.
Contoh yang sangat sederhana ialah seorang juru tik yang mampu menyelesaikan
tugasnya dengan baik dalam waktu singkat. Juru tik tersebut mendapat pujian
dari atasannya. Pujian tersebut berakibat pada kenaikan gaji yang dipercepat.
Karena juru tik tersebut menyenangi konsekuensi perilakunya itu, ia lalu
terdorong bukan hanya bekerja lebih tekun dan lebih teliti, akan tetapi bahkan
berusaha meningkatkan keterampilannya, misalnya dengan belajar menggunakan
komputer sehingga kemampuannya semakin bertambah, yang pada gilirannya
diharapkan mempunyai konsekuensi positif lagi di kemudian hari.
Contoh sebaliknya ialah seorang
pegawai yang datang terlambat berulangkali mendapat teguran dari atasannya,
mungkin disertai ancaman akan dikenakan sanksi indisipliner. Teguran dan
kemungkinan dikenakan sanksi sebagai konsekwensi negatif perilaku pegawai
waktunya berakibat pada modifikasi perilakunya tempat tugas. Penting untuk
diperhatikan bahwa agar cara-cara yang digunakan untuk modifikasi perilaku
tetap memperhitungkan harkat dan martabat manusia yang harus selalu diakui dan
dihormati, cara-cara tersebut ditempuh dengan “gaya” yang manusiawi pula.
Menurut model ini, motivasi seorang
individu sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik yang bersifat internal
maupun eksternal. Termasuk pada faktor internal adalah : (a) persepsi seseorang
mengenai diri sendiri, (b) harga diri, (c) harapan pribadi, (d) kebutuhan, (e)
keinginan , (f) kepuasan kerja, (g) prestasi kerja yang dihasilkan.
Sedangkan faktor eksternal
mempengaruhi motivasi seseorang, antara lain ialah : (a) jenis dan sifat
pekerjaan; (b) kelompok kerja dimana seseorang bergabung; (c) organisasi tempat
bekerja, (d) situasi lingkungan pada umumnya; (e) sistem imbalan yang berlaku
dan cara penerapannya.[4]
Faktor-Faktor Motivasi
Motivasi dalam diri seseorang dapat
ditimbulkan oleh beberapa faktor atau penyebab. Faktor-faktor motivasi dalam
dunia kerja menurut Handoko (2001: 252) meliputi beberapa faktor sebagai
berikut:
a. Perhatian institusi terhadap
karyawan
b. Pemberian penghargaan dan pujian
bagi karyawan berprestasi
c. Adanya usaha peningkatan kualitas
karyawan
d. Hubungan kerja antara atasan
dengan bawahan
e. Hubungan kerja antara sesama
karyawan
Sedangkan Nitisemito (1996: 258)
merumuskan faktor-faktor motivasi menjadi dua, yaitu faktor ekstern dan faktor
intern yang meliputi:
1. Faktor ekstern, yang berasal dari
luar karyawan, antara lain:
a. Lingkungan kerja yang
menyenangkan
b. Kompensasi yang memadai
c. Supervisi yang baik
d. Adanya penghargaan atas prestasi
e. Status dan tanggung jawab
f. Peraturan yang berlaku
2. Faktor intern, yang berasal dari
dalam diri karyawan, antara lain:
a. Kematangan pribadi
b. Keinginan dan harapan pribadi
c. Kebutuhan
d. Kelelahan dan kebosanan
e. Kepuasan kerja
SISTEM
REKRUTMEN DAN SELEKSI
Sistem rekrutment atau pencarian dan
pengadaan calon pegawai yang berkualitas dan potensial sehingga organisasi
dapat menyeleksi orang-orang yang paling sesuai bagi kebutuhan yang ada.
Rekrutmen adalah serangkaian aktivitas dan proses yang digunakan sejumlah orang yang bekualitas
pada ruang dan waktu yang sesuai sehingga orang-orang dan organisasi dapat
memilih satu sama lain minat dalam jangka pendek dan jangka panjang. [5]
Cara dan metode seleksi
Sebelum
seleksi calon pegawai diberikan folmulir isian/lembar daftar pelamar yang harus
diisi calon pegawai secara jelas. Tujuannya pengisian folmulir untuk:
a. Memberikan gambaran umum tentang pribadi pelamar
b. Memberikan kesan watak dan karakte kepribadian pelamar
c. Memperoleh kepastian apakah calon pegawai memenuhi kriteria
yang diminta dan mempunyai kecakapan
d. Untuk menentukan calon pegawai mana yang harus di
calonkan dan dipanggil untuk untuk mengikuti seleksi tahap berikutnya.
Kriteria dasar rekrutmen dan seleksi
a.
Pegawai
yang diterima berakal sehat
b.
Seleksi
harus berpedoman pada laporan analisis pekerjaan dan rencana perekrutan pegawai
c.
Eisien
dan efekti
d.
Memperhatikan
peraturan dan ketentuan yang berlaku
e.
Dilakukan
secara objektif dan jujur
f.
Dilakukan
secara profesional
Proses seleksi pesonil
;
a. Umur
b. Kesehatan fisik
c. Pendidikan
d. Pengalaman kerja
e. Perangai
f. Pengetahuan umum
g. Keterampilan komunikasi
h. Motivasi
i.
Sikap
dan nilai-nilai
j.
Kesehatan
mental
k. Kepantasan untuk bekerja dengan murid, anggota staff
sekolah dan masyarakat
l.
Faktor-faktor
lain yang secara khusu ditetapkan pemerintah
C. KEPEMIMPINAN
Menurut teoritis kepemimpinan, kepemimpinan etis adalah
kepemimpinan yang mendemonstrasikan perilaku yang secara normative tepat
melalui tindakan-tindakan personal dan hubungan interpersonal, dan promosi
perbuatan seperti itu kepada para pengikut melalui komunikasi dua arah,
penguatan, dan pembuatan keputusan. [6]
Pengaruh merupakan esensi dari kepemimpinan, dan para
pemimpin yang berkuasa dampaka memiliki dampak besar pada kehidupan dari para
pengikut dan nasib dari sebuah organisasi. Seperti yang diingatkan oleh Gini,
masalah utamanya bukanlah apakah para pemimpin akan menggunakan kekuasaan,
tetapi apakah mereka akan menggunakannya dengan bijaksana dan baik. Potensi
besar sekali untuk pengaruh adalah satu alasan begitu banyak orang yang
tertarik dalam aspek etis dari kepemimpinan. Subjek ini menjadi menonjol dalam
beberapa tahun terakhir. Satu alasan mungkin adalah kepercayaan public yang
menurun kepada para pemimpin bisnis dan politik selama tiga decade terakhir
(Kouzes & Posher). [7]
Etika adalah penyelidikan filosofi mengenai
kewajiban-kewajiban manusia, dan tentang hal-hal yang baik dan buruk jadi
penyelidikan tentang bidang moral. Maka etika juga didefinisikan sebagai
filsafat tentang bidang moral. Etika tidak membahas kondisi atau keadaan
manusia melainkan tentang bagaimana manusia itu seharusnya bertingkah laku.
Karena itu pula etika adalah filsafat mengenai praktis manusia yang harus
berbuat menurut aturan dan norma tertentu. [8]
Norma merupakan aturan mengenai baik dan buruk, benar dan
salah. Sedangkan yang dimaksud dengan etika adalah suatu pendekatan sitematis
atas pertimbangan moral berdasarkan penalaran, analisis, sintesis, dan
perenungan. Dalam melakakukan pilihan etis terhadap pertimbangan moral tertentu
maka nilai dari masing-masing pihak yang terlibat dalam suatu pengambilan
keputusan etis akan sangat menentukan pilihan mana yang akan dilakukan. Dengan
demikian senantiasa terdapat hubungan yang sangat erat antara nilai dengan
keputusan etis yang dibuat. [9]
Organisasi
merupakan penjelasan yang menguntungkan bagi pemahaman yang lebih baik dan
mengembangkan etika organisasi. Jika perilaku organisasi dapat memberikan
wawasan mengenai bagaimana mengelola perilaku kerja manusia, kemudian ia dapat
mengajarkan kepada kita cara menghindari perilaku yang buruk. Etika mencakup
penelitian mengenai pilihan dan masalah moral. Ia menyangkut benar versus
salah, baik versus buruk, dan banyak bayangkan kelabu dalam isu-isu yang diduga
berwarna hitam dan putih. Implikasi moral bersumber dari setiap keputusan yang
sebenarnya, baik didalam maupun diluar kerja. [10]
Kepemimpinan
etis merupakan gagasan yang ambigu yang terlihat meliputi beragam elemen
berbeda. Amatlah berguna membuat sebuah perbedaan antara etis dari seorang
pemimpin dengan etika dari jenis perilaku kepemimpinan tertentu (Bass &
Steidlmeier, 1999). Kedua jenis etika itu sulit dievaluasi. Heifetz (1994)
menyatakan tidak ada landasan netral secara etis bagi teoti-teori kepemimpinan,
karena mereka selalu melibatkan nilai dan asumsi implicit mengenai bentuk
pengaruh yang tepat. [11]
Disamping
persoalan moral dan pedoman program etika serta iklim budaya organisasi, dalam
kerangka mengenai diversitas, etika juga mempunyai dampak pada bagaimana
bawahan diperlakukan, dan bagaimana mereka melakukan pekerjaannya. Dengan kata
lain, etika dapat mempengaruhi keadaan karyawan dan kinerja mereka. Secara
khusus, masalah-masalah sosial saat ini yang berhubungan dengan keterlibatan
perusahaan dalam pelecahan seksual dan hak privasi, secara khusus relavan dengan
studi perilaku etis dalam organisasi sekarang ini. [12]
Fungsi
Etika Kepemimpinan
Etika memengaruhi
perilaku pemimpin dan perilaku pera pengikut. Fungsi etika kepemimpinan ialah
sebagai berikut:
1.
Norma
etika. Setiap organisasi. Setiap organisasi atau sistem soisal yang mapan
mempunyai norma dan nilai-nilai etika di samping peraturan. Norma dan
nilai-nilai tersebut merupakan bagian daripada budaya organisasi.
2.
Pemimpin.
Norma dan nilai-nilai memengaruhi perilaku semua anggota organisasi termasuk
pemimpin. Khusus bagi pemimpin ia harus memimpin aplikasi dan penegakan
pelaksanaan norma dan nilai-nilai dalam perilaku organisasi dan perilaku
pribadi para anggota organisasi.
3.
Perilaku
memengaruhi pemimpin yang etis. Norma dan nilai-nilai organisasi diterapkan
dalam perilaku memengaruhi pemimpin. Jika pemimpin menerapkan norma dan
nilai-nilai etika maka terciptalah teknik memengaruhi dari pemimpin yang etis.
Pemimpin menggunakan teknik memengaruhi yang dapat diterima oleh para pengikut
yang juga telah menerapkan norma dan nilai-nilai organisasi dalam perilakunya.
4.
Iklim
etika. Penggunaan norma dan nilai-nilai organisasi oleh pemimpin dalam teknik
memengaruhi pemimpin yang dapat diterima oleh para pengikut yang telah
menyesuaikan perilakunya dengan norma dan nilai-nilai organisasi menciptakan
iklim etika dalam organisasi. Iklim etika adalah persepsi pemimpin dan pengikut
mengenai apa yang terjadi secara rutin dalam lingkungan internal organisasi.
5.
Kinerja
Pengikut. Iklim etika memungkinkan para pengikut bekerja secara maksimal,
meningkatkan motivasi, etos kerja dan kepuasan kerja para pengikut.
Hambatan-hambatan psikologis pengikut dalam bekerja dihindari. Dengan demikian
akan tercipta kinerja maksimal dari para pengikut.
6.
Visi
tercapai. Jika kinerja pengikut maksimal maka dapat diprediksi kinerja
organisasi akan maksimal dan visi pemimpin akan tercapai.[13]
Dilema dalam Mengevaluasi
Kepemimpinan Etis
Mempengaruhi
komitmen dan optimisme pengikut adalah aspek pusat dari kebanyakan teori
mengenai kepemimpinan efektif. Para pemimpin biasanya diharapkan untuk
mempengaruhi komitmen para pengikut terhadap sebuah tugas yang ada atau sebuah
aktivitas baru. Namun, pengaruh ini juga merupakan sumber dari kekhawatiran
etis. Masalah untuk mengevaluasi kepemimpinan etis adalah untuk menentukan
kapan pengaruh demikian kapan pengaruh demikian itu tepat.
Etika
mempengaruhi para pengikut adalah perhatian utama untuk teori kepemimpinan
transformasional dan karismatik. Kebanyakan teori ini melibatkan pengaruh
pemimpin yang besar atas sikap dan perilaku pengikut. Lebih mudah untuk
mengevaluasi kepemimpinan etis saat minat dari pemimpin, pemgikut dan
organisasi kongruen dan dapat dicapai dengan tindakan yang tidak melibatkan
terlalu banyak resiko atau biaya kepada suatu pihak.
Namun,
dalam banyak situasi proses mempengaruhi dapat melibatkan, penciptaan
antuasiasme untuk sebuah strategi atau proyek yang berkuasa, membujuk para
pengikut untuk mengubah keyakinan dan nilai mereka yang mendasari atau ketiga
mempengaruhi keputusan yang akan menguntungkan sebagian orang dengan
mengorbankan yang lain. Setiap jenis pengaruh ini melibatkan beberapa dilema
etis.
Mempengaruhi
Harapan, sebuah tanggung jawab kepemimpinan yang penting adalah untuk
menerjemahkan peristiwa yang membingungkan dan membangun consensus di sekitar
strategi untuk berhadapan dengan ancaman dan kesempatan. Nilai dan Keyakinan
yang Mempengaruhi yang lebih controversial adalah sebiah untuk mengubah nilai
dan keyakinan yang mendasari dari masing-masing pengikut. Berbagai Stakeholder
kesulitan dalam mengevaluasi efektivitas kepemimpinan meliputi berbagai
criteria yang memiliki pertukaran yang rumit, dan para stakeholder yang
sebagian memiliki kepentingan untuk saling berkonflik.
Evaluasi
harus mempertimbangkan batasan dimana seorang pemimpin yang menyeimbangkan dan
mengintegrasikan kepentingan dari stakeholder berbeda di dalam batasan yang
dikenakan oleh kewajiban hukum dan kontraktual. Sebuah orientasi integrative
terlihat lebih etis bagi pemimpin daripada mendukung fraksi yang akan
memberikan keuntungan pribadi yang tertinggi bagi pemimpin, mempermainkan
stakeholder satu sama lain atau berusaha mengabaikan konflik kepentingan
substantive. [14]
Perilaku Etis
Seorang pemimpin,
yang etis perilakunya mengacu pada norma-norma etika. Karakteristik perilaku
etis antara lain:
1.
Dapat
dipercaya. Seorang pemimpin harus dapat dipercaya oleh para pengikutnya. Ia
seorang yang jujur berupaya menyatukan antara apa yang dikatakan, dijanjikan
dengan apa yang dilakukannya.
2.
Menghargai
dan menghormati orang lain. Pemimpin harus memperlakukan para pengikut dengan
baik seperti ia ingin diperlakukan pengikutnya dan orang lain. Pemimpin juga
harus menghargai hak asasi para pengikut dan orang-orang yang berhubungan dengan
organisasinya.
3.
Bertanggung
Jawab. Pemimpin harus mempunyai rasa tanggung jawab terhadap tugasnya dan
perannya dalam organisasi untuk mencapai visi, misi, dan tujuan organisasi.
4.
Adil.
Seorang pemimpin harus adil dalam melaksanakan peraturan tidak mengambil
keuntungan untuk diri sendiri, keluarganya dan kroninya.
5.
Kewargaan
oraganisasi. Pemimpin melaksankan tugas untuk membuat kehidupan lebih baik,
melindungi lingkungan, melaksanakan tugasnya sesuai dengan undang-undang dan
peraturan dan menerapkan prinsip-prinsip dasar organisasi.
6.
Menggunakan
kekuasaannya secara bijak. Pemimpin mempunyai betbagai jenis kekuasaan yang
dapat dipergunakannya untuk memengaruhi para pengikutnya dan orang lain yang
berhubungan dengan organisasinya.
7.
Jujur.
Pemimpin harus memegang prinsip kejujuran, ia harus jujur kepada dirinya
sendiri, kepada para pengikutnya dan kepada orang yang berhubungan dengan
organisasinya.
Pemimpin
merupakan faktor penentu terciptanya perilaku etis dan iklim etika dalam
organisasi. Pemimpin menyusun strategi pengembangan perilaku etis yang
merupakan bagian dari strategi organisasi. Pemimpin menyusun kode etik
organisasi san melaksanakannya sebagai panduan perilaku para anggota
organisasi. Dalam melaksanakan kode etik, pemimpin menjadi role model atau panutan
perilaku etis. Dalam organisasi dibentuk komisi atau badan kode etik yang
menegakkan pelaksanaan kode etik.[15]
Etika Profesi Pemimpin
Profesi
adalah vak, pekerjaan yang dilakukan oleh seseorang. Jika kepemimpinan itu
harus dijadikan satu profesi, dan oleh tugas-tugasnya yang berat pemimpin
tersebut mendapatkan imbalan materiil dan imateriil tertentu, maka sebagai
konsekuensinya pada dirinya bisa dikenakan sanksi-sanksi tertentu. Karena itu
profesi kepemimpinan selalu menyandang nilai-nilai etis dan pengenaan sanksi
tersebut. Dengan demikian etika profesi pemimpin memberikan landasan kepada
setiap pemimpin untuk selalu:[16]
1.
Bersikap
kritis dan rasional. Berani mengemukakan pendapat sendiri dan berani bersikap
tegas sesuai dengan rasa tanggung jawab etis sendiri.
2.
Bersikap
otonom. Dengan otonomi ini bukan berarti sang pemimpin dapat berbuat semau
sendiri, atau bisa bertingkah laku sewenang-wenang, melainkan dia bebas memeluk
norma-norma diyakini sebagai baik dan wajib dilaksanakan, untuk membawa anak
buah pada pencapaian tujuan tertentu.
3.
Memberikan
perintah-perintah dan larangan-larangan yang adil dan harus ditaati oleh setiap
lembaga dan individu. Yaitu oleh pemimpin , orang tua, keluarga, sekolah, badan
hukum, lembaga agama, negara, dan lain-lain.
Determinan
dari Kepemimpinan Etis
Kepemimpinan
etis juga berhubungan dengan kebutuhan individual dan ciri kepribadian dari
pemimpin. Perilaku yang destruktif dan berorientasi diri sendiri lebih
memungkinkan bagi pemimpin yang memiliki ciri kepribadian yang seperti amat menyukai
diri sendiri, Kematangan emosional yang rendah, pusat orientasi kendali
eksternal, orientasi kekuasaan pribadi. Jenis pemimpin ini lebih merasa bahwa
orang lain tidak dapat dipercaya dan memandang mereka sebagai objek untuk
dimanipulasi untuk keuntungan pribadi. Pemimpin menggunakan kekuasaan
mengeksploitasi orang lain dan memajukan keriernya sendiri, bukannya untuk
mencapai sasaran organisatoris.
Perilaku
etis terjadi dalam konteks sosial dan dapat dipengaruhi oleh aspek situasi.
Perilaku yang tidak etis akan lebih mungkin bagi organisasi yang memiliki
tekanan tinggi untuk meningkatkan produktivitas, kompetisi yang ketat untuk
penghargaan dan kemajuan, penekanan yang kuat pada kepatuhan kepada yang
berwenang, kekuasaan posisi yang kuat bagi para pemimpin, dan nilai dan norma
budaya yang lemah mengenai perilaku etis dan tanggung jawab individual.
Kepribadian
pemimpin dan perkembangan moral kognitif berinteraksi dengan aspek dari situasi
dalam penentuan perilaku eis dan tidak etis. Perilaku etis dapat dijelaskan
secara lebih baik dengan pertimbangan dari individual dan situasinya, daripada
salah satu variabel itu saja. Pemimpin yang matang secara emosional memiliki
tingkat perkembangan moral yang tinggi lebih mungkin menentang tekanan sosial
untuk menggunakan praktik destruktif atau tidak etis. [17]
DAFTAR
PUSTAKA
2. Endang
R, Mulyani dkk, 2010 Prinsip Penyelenggaraan Administrasi Perkantoran
3. The
Liang Gie, 2000 Administrasi Perkantoran Modern, Yogyakarta, Liberty
4. Senge,
Peter. M (1998). Disipli kelima, Seni dan praktek organisasi pembelajaran.
Binarrupa aksara. Jakarta
5. https://sumberbelajarsmkn10/rekrutmen-dan-seleksi-guru/2016
diakses tanggal 09
juni 2016 jam 22.00
6. Dr.
Wirawan, MSL, Sp.A.,MM.,M.Si., Kepemimpinan: Teori, Psikologi, Perilaku
Organisasi, Aplikasi dan Penelitian, 2013, Jakarta, Raja Grafindo Persada, hlm.
102.
7. Gary
Yukl, Kepemimpinan dalam Organisasi, 2005, Jakarta, Macanan Jaya Cemerlang,
hlm. 480.
8. Prof.
Dr. Veithzal Rivai, M.B.A., Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi, 2007,
Jakarta, Raja Grafindo Persada, hlm. 96.
9. Ismail
Solihin, Pengantar manajemen, 2009, Jakarta, Gelora Aksara Pratama, hlm.
178-179.
10. Robert
Kreitner, Angelo Kinicki, Perilaku Organisasi, 2003, Jakarta, Salmeba Empat,
hlm. 105.
11. Gary
Yukl, Kepemimpinan dalam Organisasi, 2005, Jakarta, Macanan Jaya Cemerlang,
hlm. 480.
12. Luthans
Fred, Perilaku Organisais, 2005, Yogyakarta, hlm. 89-91.
13. Dr.
Wirawan, MSL, Sp.A.,MM.,M.Si., Kepemimpinan: Teori, Psikologi, Perilaku
Organisasi, Aplikasi dan Penelitian, 2013, Jakarta, Raja Grafindo Persada, hlm.
104-105.
14. Gary
Yukl, Kepemimpinan dalam Organisasi, 2005, Jakarta, Macanan Jaya Cemerlang,
hlm. 484-488.
15. Dr.
Wirawan, MSL, Sp.A.,MM.,M.Si., Kepemimpinan: Teori, Psikologi, Perilaku
Organisasi, Aplikasi dan Penelitian, 2013, Jakarta, Raja Grafindo Persada, hlm.
105-106.
16. Prof.
Dr. Veithzal Rivai, M.B.A., Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi, 2007,
Jakarta, Raja Grafindo Persada, hlm. 96-99.
17. Gary
Yukl, Kepemimpinan dalam Organisasi, 2005, Jakarta, Macanan Jaya Cemerlang,
hlm. 489-490.
18. Seels,
Barbara B. dan Rita C. Richey.1995. Teknologi Pembelajaran: Definisi dan
Kawasannya, (terjemahan Dewi S. Prawiradilaga, dkk). Jakarta:
UNJ Agus Dwiyono. 2007.


